YTube


Gita Wirjawan & Dede Yusuf, Secuil Kisah Masa Kecil

Reporter: Dimas | Jumat, 15 November 2013 18:05


Gita Wirjawan & Dede Yusuf, Secuil Kisah Masa Kecil
Gita dan Ibunya. gitawirjawan.com

AyoGitaBisa.com - Gita Wirjawan merupakan salah satu siswa yang menonjol ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Jiwa kepemimpinannya sudah terlihat sejak SD. Gita bahkan sering didaulat menjadi pengambil keputusan ketika teman-temannya beradu pendapat.

Hal itu diungkapkan oleh teman SD Gita Wirjawan, Jimin Andri Sarosa, sebagaimana diungkapkan dalam blog di kompasiana dengan judul "Gita Wirjawan & Dede Yusuf, Secuil Kisah Masa Kecil". Jimin, Gita, dan Dede Yusuf sama-sama sekolah di SD Boedi Waloejo.

Berikut cuplikan tentang masa kecil Gita Wirjawan dan Dede Yusuf, seperti dikisahkan Jimin dalam blog tersebut:

Siapa sih yang ngga pernah dengar nama Gita Wirjawan yang Menteri Perdagangan itu? Dan, siapa pula yang tidak pernah mendengar nama Dede Yusuf Effendy yang (mantan) wakil Gubernur Jawa Barat itu?

Dibawah ini secuil kisah masa kecil mereka saat SD dari sudut pandang teman sekolahnya

Kisah ini berawal dari SD Boedi Waloejo, sebuah SD swasta yang terletak di Jl. Cisanggiri 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Cikal bakal SD ini adalah sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk anak-anak yang mengalami cacat mental di bilangan Jl. Bangka, Jakarta Selatan yang didirikan tahun 1952 atas inisiatif keluarga Yayasan Pendidikan Boedi Waloejo yang mendapat anugerah dan rasa syukur kepada Tuhan YME atas kesembuhan putranya yang bernama Boedi Waloejo, dari kelumpuhan yang diderita selama 4 tahun.

Dalam perkembangannya Yayasan Pendidikan Boedi Waloejo juga mendirikan sekolah untuk anak-anak normal di Jl. Cisanggiri tersebut. Disinilah kami, Gita Wirjawan, Dede Yusuf dan saya, pernah menuntut ilmu pada tahun 1971-1977. Enam tahun bersama mereka sangat banyak cerita yang sebenarnya bisa disampaikan, tapi berhubung faktor U, hanya secuil yang bisa diingat.

Gita Wirjawan adalah salah satu yang tertinggi di kelas. Maksudnya tinggi disini adalah dari segi tinggi badannya. Maklum, beliau adalah anak dari seorang pengusaha kaya yang tinggal di Jl. Patiunus Kebayoran Baru. Hal ini (mungkin) membuat gizinya terjamin sehingga postur tubuhnya cukup ideal untuk bermain sepakbola. Setiap kali bertanding antar kelas atau antar sekolah, Gita masuk dalam starting eleven.

Gita termasuk murid yang pintar di kelas. Nggak jarang ranking beliau masuk dikisaran 5 besar. Bakat memimpinnya sudah terlihat sejak SD, walaupun beliau, seingat saya, nggak pernah jadi Ketua Kelas tapi wibawanya sebagai pimpinan sudah kelihatan. Tidak jarang Gita didaulat sebagai pengambil keputusan jika teman-temannya beradu pendapat. Terus terang, saat itu saya agak minder jika bermain dengan Gita. Mungkin karena saya lebih senang bergaul dengan yang "selevel" yang agak-agak bodoh dan agak badung.

Itu sebabnya saya lebih cocok bergaul dengan Dede Yusuf yang rada-rada nakal dan jail. Hobby Dede adalah menggambar. Dede punya buku tulis yang digambar dan dibikin semacam komik. Biasanya tiap hari, kami berebut membaca komik hasil bikinan Dede.

Pernah suatu ketika Dede berbaik hati untuk membuka rahasia bagaimana caranya agar bisa menggambar dengan baik. Caranya adalah "tiap hari tangan kita dimasukkan kedalam pasir panas!" Tadinya saya pikir itu benar, tapi setelah dipikir-pikir lagi, kok nggak masuk akal ya? Dasar biang jail!

Gara-gara Dede juga yang menularkan virus menggambar, akibatnya saya pernah dipukul sama guru karena iseng menggambar komik pada saat pelajaran bahasa inggris Duh, apes dan malunya.

Selepas SD, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Gita. Kabarnya beliau melanjutkan studi ke Amerika. Sementara itu, Dede Yusuf kembali ke kodratnya menjadi aktor film dan tv. Saya masih ketemu dengan Dede saat kuliah di Teknik Industri, Universitas Trisakti, Jakarta. Kebetulan kami kuliah di jurusan yang sama walaupun angkatannya beda. Saat itu kebadungan kami disalurkan dengan ngeceng di Lintas Melawai (LM) bareng.

Melihat Gita Wirjawan dan Dede Yusuf menjadi pejabat di negeri ini, saya turut bangga. Saya hanya berdoa agar mereka tidak ikut-ikutan menjadi Koruptor biar nggak malu-maluin almamaternya. Kemarin, kami sempat twitteran untuk saling menyapa di dunia maya sebab saling menyapa di dunia nyata hampir-hampir mustahil mengingat kesibukan mereka, kecuali jika mereka mau meluangkan waktu untuk ikut reuni'an who knows?

[asa]

Kesepakatan WTO di Bali ciptakan 21 Juta lapangan pekerjaan. Juga akan menciptakan aktivitas perekonomian bernilai US$ 1 triliun.



Sumber: sosok.kompasiana.com



KOMENTAR

Gita Wirjawan
Gita Wirjawan
Gita Berani Lebih Baik

FOLLOW GITA